Sunday, November 24, 2013

"Hujan Kemarau", Satir Yang Dibalut Nuansa Anggun


Kemunculan Oldyoung dalam ranah musik di Kota Semarang telah mencuri perhatian Saya. Suatu kali, saat Saya menyaksikan aksi panggung mereka secara langsung, hal itu membuat Saya tercengang dan jatuh cinta terhadap unit Retrofolk tersebut. Sebut saja Hujan Kemarau –salah  satu lagu yang akan terdapat pula dalam album mereka. Lagu tersebut mengalun begitu tenang sekaligus menyimpan sebuah cerita seperti halnya detak jam dinding yang menyeruak dalam ruangan kosong. Dalam Hujan Kemarau, Oldyoung sedang tidak menjadi peramal cuaca atau apapun penyebutannya. Oldyoung begitu tanggap terhadap hal-hal sederhana semacam keinginan manusia yang tak pernah ada habisnya, dan itulah interpretasi yang terkandung dalam Hujan Kemarau. Tentunya kita sering menjumpai orang-orang (bahkan kita sendiri) mengeluh ketika hujan, pun juga ketika matahari begitu menyengat. Afiliasi antara musik dan vokal begitu harmonis, ditambah pula bagian tengah lagu yang mengalami klimaks. Oldyoung seolah sedang menyajikan satir berupa sebuah pentas teatrikal yang megah dan anggun.

Tuesday, July 30, 2013

Zine: Media Perlawanan Yang Mulai Akrab Dengan Dinding Pameran

Cogito ergo sum. Ungkapan Rene Descartes yang didasari oleh keraguan terhadap hal-hal di sekelilingnya tersebut kemudian menjadi semacam pegangan orang-orang untuk membuktikan eksistensinya. Menurut beberapa referensi yang saya baca, Descartes ragu-ragu akan kebenaran absolut. Dia berpendapat bahwa pikiran manusia akan menuntunnya ke dalam berbagai kesalahan. Hingga pada suatu saat, dia sadar kalau kekuatan yang ada di dalam pikirannya membuktikan bahwa hal-hal di sekelilingnya ada, termasuk keberadaan dirinya sendiri. Agnostik, ya? Terus berpikir, hal yang ada di dalam keraguan akan menemui muaranya -keberadaan mutlak berupa kebenaran. Pun, setelah menemu kebenaran juga hendaknya terus berpikir.
Dari hal yang diungkapkan oleh Descartes, dapat pula 'diplesetkan' menjadi Scribo ergo sum. Aku menulis, maka aku ada. Kalau Soe Hok Gie tidak gemar menuliskan hal-hal yang dialaminya, barangkali namanya tak banyak dikenal orang-orang 'baru', pun begitu juga masih banyak yang belum tahu. Lalu, sejarah mengenai G30S bahkan belum menemui titik terang hingga sekarang. Pada waktu itu, jurnalis disetir oleh penguasa. Kritik dalam bentuk apapun terhadap pemerintahan orde baru diharamkan, bahkan yang mengkritik dihilangkan. Imbasnya sekarang, sejarah menjadi kabur. Karena dari tulisan, kebenaran dan/atau keberadaan sejarah dapat pula diungkap.

Zine, Alterego...

Tak banyak yang tahu mengenai zine (dibaca 'zin'), terlebih angkatan-angkatan baru. Seperti halnya dengan Punk, pun pendefinisian zine kadang seolah kabur. Tiap orang memiliki perspektif pribadi dalam menilai zine atau bukan zine. "Nah yang menarik dari zine memang itu. Ah, rasanya ada pakem, tapi aku pikir semua bisa bebas-bebas saja. Tapi, kebebasan itu pun rasanya memiliki satu garis tebal tertentu dalam hal pengemasan. Jadi, pakem menciptakan zine itu bebas-bebas asik.", ungkap Annisa Rizkiana Rahmasari. Pada 17 - 28 Juli lalu, bertempat di Hysteria (Stonen 29, Sampangan, Semarang) telah diadakan sebuah workshop dan pameran zine yang digagas oleh Annisa Rizkiana Rahmasari dan beberapa temannya. Dalam workshop itu pula, beberapa zinemaker yang sempat menghiatuskan diri kembali menciptakan zine dengan topik bahasan yang belum mereka rencanakan sebelumnya. Mereka menciptakan zine secara sederhana dengan alat dan bahan semacam kertas, alat tulis, gunting, dan sebagainya. "Seperti berkenalan, ada yang masih malu-malu. Namun, ada juga perasaan ingin mengenal lebih. So far, banyak teman-teman yang memberi support dan menginspirasi, jadi saling mendukung satu sama lain.", jelas Nisa mengenai workshop zine.
Kalau bisa dibilang, zine adalah sebuah alterego. Seperti halnya seseorang yang menuangkan hal-hal yang ada di pikirannya ke dalam sebuah lagu ataupun gambar. Apa-apa yang terdapat dalam zine juga merupakan ungkapan yang dituangkan dalam media lain. Perkembangan jaman juga berpengaruh terhadap bentuk dan macam zine. Era informatika melalui media digital memberi inisiatif kepada zinemaker untuk menciptakan webzine dan/atau e-zine. Namun, banyak pula yang masih memegang akar rumput bahwa mesin fotokopi tak akan pernah mati. Menurut perempuan yang akrab disapa Nisa tersebut, zine bisa bilang sebagai rekam jejak dan proses berkenalan dengan hal-hal baru. Sehingga dengan pengelolaan rasa ini, kita akan lebih tahu diri kita, dan yang lebih luas lagi adalah kebudayaan kota. Ya, memang ada benarnya. Zine seperti buku sejarah. Dari zine pula, kita dapat tahu sejarah kita. Sejarah dalam arti luas.
Di Semarang sendiri, pergerakan zine memang tidak bisa dibilang masif. Beberapa muncul pada 2001, mereka tak tampak setelah beberapa edisi. Namun, orang-orang tersebut melebur dan menciptakan zine baru. Setelah 2006, zine di Semarang seolah mati. Tak banyak yang produktif. "Aku ingin Semarang bisa punya zine library dan zine festival.", harap Nisa. Pasti akan menarik sekali ketika banyak dari kita, teman-teman yang kamu kenal maupun yang belum kamu jumpai sebelumnya sibuk menumpuk rekam sejarah masing-masing secara personal maupun komunitas. "Dengan begitu, we can go backward and forward through the times. Dan regenerasi ini pasti sangat menyenangkan, ada semangat yang kita pelihara secara bersama-sama.", tutup Nisa.

Friday, May 31, 2013

PART II: SATIR GURITA DASAR LAUT

Banyak yang bilang kalau era-era sekarang ini bukanlah era yang cocok untuk melemparkan isu-isu pula kritik sosial ke permukaan. Hal itu terlalu purba jika diimplementasikan dalam keseharian masyarakat yang saya rasa sudah mulai terbuai oleh zona nyaman mereka sendiri yang notabene merupakan zona pada umumnya –semua berada di lingkup sosial yang sama dan itu-itu saja. Kemudian, mereka mencibir orang-orang yang berani menyorot hal-hal ganjil ke publik. Mereka yang mayoritas memang tetap superior, namun ‘kosong’ dan monoton. Bicara mengenai musik, kita akan dihadapkan pada perspektif yang menyoal mainstream dan sidestream. Saya tak bicara soal pasar, karena keduanya membutuhkan pasar dengan pandangan mereka sendiri. Yang saya bahas adalah bahwa antara mainstream dan sidestream terdapat jurang yang tidak akan bisa dipersatukan. Perbedaan keduanya terletak pada tema dan cara kemas. Kita tak bisa serta merta menghakimi sebuah band Pop sebagai band mainstream, pula band Punk sebagai sidestream. Sekarang, keduanya bias. You know what I mean.

Berkenaan dengan topik-topik sosial, mari sejenak kita melirik Octopuz, pioneer langgam Southern Rock asal Semarang. Baru-baru ini, gerombolan si berat yang beranggotakan Haryo Prahasto, Brury Prasetyo, Gatot Jatmiko, Novelino Adam, dan Syamsa Zakka telah merilis album mini keduanya yang diberi tajuk ‘PART II’ (Girez Records) pada 15 Mei 2013 lalu. Album mini yang berisi 6 track tersebut merupakan tindak lanjut atas ‘I’ yang dirilis pada 2009. Konten di dalam ‘PART II’ masih sama dengan apa-apa yang disuarakan dalam album mini mereka sebelumnya karena memang benar jika dikatakan bahwa isu-isu mengenai kehidupan sosial tak akan pernah ada ujungnya. Untuk itu, Octopuz coba menyorot kehidupan sosial di sekitar mereka dengan lagu-lagu yang terdapat pada ‘PART II’.

Secara sederhana, saya coba untuk mengartikan artwork yang terdapat pada sampul album mereka. Terdapat seorang pria tua dengan dikelilingi 8 tentakel gurita yang masing-masing memiliki perannya masing-masing. Saya pikir, pria tua tersebut merupakan interpretasi yang mewakili Dewa Zeus dari mitologi Yunani. Namun, macam benda yang melekat pada tentakel-tentakel tersebut mengingatkan saya terhadap ilustrasi dewa-dewa Hindu. Yang saya cermati adalah gambar mahkota, ornamen matahari dan bulan, dan gradasi warna. Menurut saya, artwork tersebut secara tegas merupakan satir terhadap dualisme sifat manusia yang mencakup kebaikan dan keburukan untuk mencapai suatu tujuan. Mengenai konten di dalamnya, ‘PART II’ berisi 6 buah lagu yaitu ‘Ranah Tandus’, ‘Purifikasi Dosa Semesta’, ‘Distorsi’, ‘Kontradiksi Eksistensi’, ‘Diorama’, dan ‘Manusia dan Serigala’. Dari apa yang di suguhkan Octopuz di album mini tersebut, jelas tampak perbedaan dengan album mini sebelumnya. Untuk ‘PART II’, Octopuz lebih berani mengeksplorasi musik mereka dan bermain-main dengan efek modulasi. Kita juga akan menemukan sesuatu yang berbeda pada ‘Kontradiksi Eksistensi’ –terdapat sesi puisi oleh Cepot (Tanpa Nada) yang dilatari  bunyi-bunyian khas seperti milik Mastodon. Kemudian, pada ‘Manusia dan Serigala’, Hamzah dari trio rap Retorika ikut andil di beberapa bagian. Secara garis besar, lagu-lagu Octopuz dalam ‘PART II’ merupakan buah dari suatu kejanggalan yang mereka alami dalam kehidupan sosial.

Menurut saya, Octopuz juga patut diperhitungkan dalam skena musik nasional karena mereka berani mengaplikasikan sesuatu yang sebelumnya belum ada di ranahnya. Do you feel the same?

Friday, March 15, 2013

Holy Baby Horny Dan Manuver Menuju Album Mini

Love - Money - Leaf - Alcohol

Holy Baby Horny, band asal Kota Semarang yang akhir-akhir ini berhasil menginvasi panggung dan moshpit  di gigs lokal maupun luar kota dengan gimmick yang serampangan dan ugal-ugalan -bahkan sesekali menjurus ke aksi vandal, jujur saja selalu membuat saya penasaran dan bahkan ‘iri’ saat mereka mulai menyebarkan isu-isu di media sosial Twitter. Baru-baru ini, band yang beralih ke langgam Punk/Hardcore tersebut, secara mandiri telah memproduksi demo CD yang berisi 2 video –dokumentasi tur di kota Bandung pada 2012 dan live video dalam gig lokal “#MelawanBatas” (2013). Di dalamnya, terdapat pula sebuah lagu berjudul “SR North In West” yang rencananya akan diikutsertakan dalam album mini mereka yang akan dirilis oleh Revenge Records (YK). Jarang ada band di Semarang yang begitu produktif dan kreatif seperti mereka. Patut dicontoh!
Salut dan tinggi hormat.


Silakan bertamu ke laman mereka di:
http://soundcloud.com/holybabyhornyac
http://twitter.com/hbhac

Friday, January 25, 2013

Diskriminasi dan Rasialisme, Manifestasi Xenophobia

Dewasa ini, Indonesia seperti belum memiliki tempat pemberhentian bagi pembedaan-pembedaan. Isu-isu diskriminatif masih gencar dilancarkan oleh orang-orang yang memiliki kepentingan tertentu. Isu tersebut ditujukan atas nama candaan ringan atau kepentingan memecah belah yang begitu laten. Kedua kemungkinan tersebut sama-sama memiliki konsekuensi terhadap nilai-nilai berkebangsaan.

Diskriminasi dan rasialisme seolah menjadi warisan paten dari orang-orang terdahulu kepada para penerusnya. Sejarah menyimpulkan, isu-isu tersebut mulai menjamur di Indonesia melalui sistem devide et impera yang digagas oleh Kolonial Belanda. Dalam sistem ini, ada hak istimewa yang diberikan kepada klan tertentu, yaitu etnis Cina. Padahal kalau dinalar, sistem itu dilakukan hanya demi keuntungan Belanda semata. Terlepas dari itu, isu diskriminasi dan rasialisme tampak jelas terjadi pada era transisi Orde Lama ke Orde Baru dan terus berkembang pesat di era Orde Baru.

Pada masa transisi Orde, timbul suatu konflik yang memojokkan Partai Komunis Indonesia yang pada saat itu dianggap akan melakukan makar terhadap Soekarno dan Republik. Pada masa ini, terdapat suatu kekuatan yang tiba-tiba muncul dan melancarkan isu rasial terhadap etnis Cina dengan menuduh etnis tersebut sebagai antek komunis. Jelas saja, hal ini dikarenakan komunis juga berkembang pesat di RRC. Kemudian, saat Orde Baru, penguasa kala itu seolah “membalas dendam” dengan cara mereproduksi sistem politik yang digunakan pada masa kolonial untuk lebih menekan etnis tertentu. Orde Baru juga menghasilkan sistem politik yang rasial dengan adanya pembagian wilayah-wilayah berdasarkan pembedaan etnis, ras, dan golongan. Hal itu kemudian disinyalir sebagai penyebab timbulnya rasa saling curiga dan memusuhi yang kemudian termanifestasi pada sebuah konflik yang sangat pilu.

Selepas runtuhnya rejim Orde Baru hingga sekarang, isu-isu tersebut tidak serta merta lenyap. Masih ada sisa-sisa kebencian dan dendam lama terhadap orang-orang asing yang tumbuh di kehidupan masyarakat yang berpotensi menjadi bom waktu. Seharusnya kita malu dan belajar.