Banyak yang bilang kalau era-era sekarang ini bukanlah era yang cocok
untuk melemparkan isu-isu pula kritik sosial ke permukaan. Hal itu
terlalu purba jika diimplementasikan dalam keseharian masyarakat yang
saya rasa sudah mulai terbuai oleh zona nyaman mereka sendiri yang
notabene merupakan zona pada umumnya –semua berada di lingkup sosial
yang sama dan itu-itu saja. Kemudian, mereka mencibir orang-orang yang
berani menyorot hal-hal ganjil ke publik. Mereka yang mayoritas memang
tetap superior, namun ‘kosong’ dan monoton. Bicara mengenai musik, kita
akan dihadapkan pada perspektif yang menyoal mainstream dan sidestream.
Saya tak bicara soal pasar, karena keduanya membutuhkan pasar dengan
pandangan mereka sendiri. Yang saya bahas adalah bahwa antara mainstream dan sidestream
terdapat jurang yang tidak akan bisa dipersatukan. Perbedaan keduanya
terletak pada tema dan cara kemas. Kita tak bisa serta merta menghakimi
sebuah band Pop sebagai band mainstream, pula band Punk sebagai sidestream. Sekarang, keduanya bias. You know what I mean.Berkenaan dengan topik-topik sosial, mari sejenak kita melirik Octopuz, pioneer langgam Southern Rock asal Semarang. Baru-baru ini, gerombolan si berat yang beranggotakan Haryo Prahasto, Brury Prasetyo, Gatot Jatmiko, Novelino Adam, dan Syamsa Zakka telah merilis album mini keduanya yang diberi tajuk ‘PART II’ (Girez Records) pada 15 Mei 2013 lalu. Album mini yang berisi 6 track tersebut merupakan tindak lanjut atas ‘I’ yang dirilis pada 2009. Konten di dalam ‘PART II’ masih sama dengan apa-apa yang disuarakan dalam album mini mereka sebelumnya karena memang benar jika dikatakan bahwa isu-isu mengenai kehidupan sosial tak akan pernah ada ujungnya. Untuk itu, Octopuz coba menyorot kehidupan sosial di sekitar mereka dengan lagu-lagu yang terdapat pada ‘PART II’.
Secara sederhana, saya coba untuk mengartikan artwork yang terdapat pada sampul album mereka. Terdapat seorang pria tua dengan dikelilingi 8 tentakel gurita yang masing-masing memiliki perannya masing-masing. Saya pikir, pria tua tersebut merupakan interpretasi yang mewakili Dewa Zeus dari mitologi Yunani. Namun, macam benda yang melekat pada tentakel-tentakel tersebut mengingatkan saya terhadap ilustrasi dewa-dewa Hindu. Yang saya cermati adalah gambar mahkota, ornamen matahari dan bulan, dan gradasi warna. Menurut saya, artwork tersebut secara tegas merupakan satir terhadap dualisme sifat manusia yang mencakup kebaikan dan keburukan untuk mencapai suatu tujuan. Mengenai konten di dalamnya, ‘PART II’ berisi 6 buah lagu yaitu ‘Ranah Tandus’, ‘Purifikasi Dosa Semesta’, ‘Distorsi’, ‘Kontradiksi Eksistensi’, ‘Diorama’, dan ‘Manusia dan Serigala’. Dari apa yang di suguhkan Octopuz di album mini tersebut, jelas tampak perbedaan dengan album mini sebelumnya. Untuk ‘PART II’, Octopuz lebih berani mengeksplorasi musik mereka dan bermain-main dengan efek modulasi. Kita juga akan menemukan sesuatu yang berbeda pada ‘Kontradiksi Eksistensi’ –terdapat sesi puisi oleh Cepot (Tanpa Nada) yang dilatari bunyi-bunyian khas seperti milik Mastodon. Kemudian, pada ‘Manusia dan Serigala’, Hamzah dari trio rap Retorika ikut andil di beberapa bagian. Secara garis besar, lagu-lagu Octopuz dalam ‘PART II’ merupakan buah dari suatu kejanggalan yang mereka alami dalam kehidupan sosial.
Menurut saya, Octopuz juga patut diperhitungkan dalam skena musik nasional karena mereka berani mengaplikasikan sesuatu yang sebelumnya belum ada di ranahnya. Do you feel the same?
No comments:
Post a Comment