Friday, January 25, 2013

Diskriminasi dan Rasialisme, Manifestasi Xenophobia

Dewasa ini, Indonesia seperti belum memiliki tempat pemberhentian bagi pembedaan-pembedaan. Isu-isu diskriminatif masih gencar dilancarkan oleh orang-orang yang memiliki kepentingan tertentu. Isu tersebut ditujukan atas nama candaan ringan atau kepentingan memecah belah yang begitu laten. Kedua kemungkinan tersebut sama-sama memiliki konsekuensi terhadap nilai-nilai berkebangsaan.

Diskriminasi dan rasialisme seolah menjadi warisan paten dari orang-orang terdahulu kepada para penerusnya. Sejarah menyimpulkan, isu-isu tersebut mulai menjamur di Indonesia melalui sistem devide et impera yang digagas oleh Kolonial Belanda. Dalam sistem ini, ada hak istimewa yang diberikan kepada klan tertentu, yaitu etnis Cina. Padahal kalau dinalar, sistem itu dilakukan hanya demi keuntungan Belanda semata. Terlepas dari itu, isu diskriminasi dan rasialisme tampak jelas terjadi pada era transisi Orde Lama ke Orde Baru dan terus berkembang pesat di era Orde Baru.

Pada masa transisi Orde, timbul suatu konflik yang memojokkan Partai Komunis Indonesia yang pada saat itu dianggap akan melakukan makar terhadap Soekarno dan Republik. Pada masa ini, terdapat suatu kekuatan yang tiba-tiba muncul dan melancarkan isu rasial terhadap etnis Cina dengan menuduh etnis tersebut sebagai antek komunis. Jelas saja, hal ini dikarenakan komunis juga berkembang pesat di RRC. Kemudian, saat Orde Baru, penguasa kala itu seolah “membalas dendam” dengan cara mereproduksi sistem politik yang digunakan pada masa kolonial untuk lebih menekan etnis tertentu. Orde Baru juga menghasilkan sistem politik yang rasial dengan adanya pembagian wilayah-wilayah berdasarkan pembedaan etnis, ras, dan golongan. Hal itu kemudian disinyalir sebagai penyebab timbulnya rasa saling curiga dan memusuhi yang kemudian termanifestasi pada sebuah konflik yang sangat pilu.

Selepas runtuhnya rejim Orde Baru hingga sekarang, isu-isu tersebut tidak serta merta lenyap. Masih ada sisa-sisa kebencian dan dendam lama terhadap orang-orang asing yang tumbuh di kehidupan masyarakat yang berpotensi menjadi bom waktu. Seharusnya kita malu dan belajar.

No comments:

Post a Comment