Sunday, November 24, 2013

"Hujan Kemarau", Satir Yang Dibalut Nuansa Anggun


Kemunculan Oldyoung dalam ranah musik di Kota Semarang telah mencuri perhatian Saya. Suatu kali, saat Saya menyaksikan aksi panggung mereka secara langsung, hal itu membuat Saya tercengang dan jatuh cinta terhadap unit Retrofolk tersebut. Sebut saja Hujan Kemarau –salah  satu lagu yang akan terdapat pula dalam album mereka. Lagu tersebut mengalun begitu tenang sekaligus menyimpan sebuah cerita seperti halnya detak jam dinding yang menyeruak dalam ruangan kosong. Dalam Hujan Kemarau, Oldyoung sedang tidak menjadi peramal cuaca atau apapun penyebutannya. Oldyoung begitu tanggap terhadap hal-hal sederhana semacam keinginan manusia yang tak pernah ada habisnya, dan itulah interpretasi yang terkandung dalam Hujan Kemarau. Tentunya kita sering menjumpai orang-orang (bahkan kita sendiri) mengeluh ketika hujan, pun juga ketika matahari begitu menyengat. Afiliasi antara musik dan vokal begitu harmonis, ditambah pula bagian tengah lagu yang mengalami klimaks. Oldyoung seolah sedang menyajikan satir berupa sebuah pentas teatrikal yang megah dan anggun.

No comments:

Post a Comment