Kali ini, OK Karaoke dengan
rilisan yang mereka beri judul Sinusoid (Vitus Records / 2014) mencoba
peruntungan untuk mengajak bertamasya menuju era gemilang generasi 90-an. Sinusoid
merupakan album kedua dari unit Pop/Indie Rock asal Semarang, setelah pada 2008
lalu terlebih dulu merilis album mini Sail Off The Storm. Secara pribadi,
Saya menyebut OK Karaoke sebagai harta karun dari era 1990-an. Ya, alasannya
adalah bunyi-bunyi yang mereka hasilkan melalui lagu-lagu seperti pernah Saya
dengar, bahkan ada yang akrab di telinga.
Sebelum mendapati album tersebut,
Saya coba mengartikan maksud dari “sinusoid” itu sendiri. Sejauh yang Saya
tahu, sinusoid merupakan gelombang suara paling jernih yang dapat ditangkap oleh
telinga manusia. Meskipun terdapat ambiguasi mengenai arti dan makna, Saya rasa
deskripsi pribadi Saya mengenai album tersebut lebih berdasar pada corak musik
yang dimainkan oleh OK Karaoke yang memang halus dan jernih. Namun, setelah
rilisan tersebut ada di tangan, deskripsi Saya kemudian bergeser. Tampak pada artwork yang diciptakan oleh Garna Raditya (gitaris OK Karaoke), warna merah semacam bercak darah menggiring
persepsi Saya menuju sinusoid yang dalam hal ini merupakan bagian dari sistem
peredaran darah di dalam jaringan hati.
OK Karaoke menjadikan 9 lagunya
sebagai amunisi yang terdapat di dalam album Sinusoid. Dari 9 lagu tersebut,
terdapat 3 lagu yang sebelumnya sudah lebih dulu mengudara. Call Me Time dan Casteless
Man merupakan single yang mereka
rilis setelah album mini Sail Off The Storm yang sekaligus sebagai media
pengenalan bagi Febrian Aditya Putra (Dito) sebagai vokalis baru mereka
beberapa tahun lalu. Sedangkan Departed merupakan salah satu lagu yang
terdapat dalam album kompilasi Atlas City Movement (Al Javier Records /
2012). Adapun 6 lagu lain yaitu Late Comer Boy, Sinusoid, Sangre Azul, Kenanglah
Angan, Lekas Sembuh, dan Fetus.
Dari 9 lagu, ada beberapa lagu
yang menjadi rujukan bagi Saya untuk menyebut album ini sebagai DeLorean menuju
era 1990-an, terlebih adalah Late Comer Boy dan Kenanglah Angan. Ketika
mendengarkan 2 lagu tersebut, rasa-rasanya seperti kembali pada masa kejayaan
Pure Saturday. Bukan bermaksud untuk menyamakan, namun akar rumput yang dibawa
Pure Saturday seolah melekat pada OK Karaoke. Kemudian, di penghujung album ada Fetus. Ah! Lagu ini seolah mempermainkan tempo berjalannya waktu. Track terakhir tersebut begitu dekat
dengan langgam Post-Rock yang kental permainan efek modulasi yang menghanyutkan.
Semoga kita bertemu pada masa
lalu, pada era 1990-an yang riang dan juga sendu. [GALJIPVT]
No comments:
Post a Comment