Friday, July 18, 2014

OK Karaoke – Sinusoid: DeLorean Menuju Era 1990-an

Kadang, manusia begitu mahir dalam mengingat hal-hal yang tidak direncanakan untuk diingat. Tak munafik, bahkan kita sering lupa terhadap sesuatu yang harusnya diingat. Entah disengaja atau tidak, kita memerlukan media lain untuk kembali ke masa lalu, mengenang segala macam hiruk pikuk yang terekam dalam simpul-simpul Ensephalon yang rumit. Lagu memiliki tendensi yang kuat untuk menjadi suatu media pengingat. Lagu seolah menjadi mesin waktu yang memiliki panel-panel untuk mengunjungi masa lalu.
Kali ini, OK Karaoke dengan rilisan yang mereka beri judul Sinusoid (Vitus Records / 2014) mencoba peruntungan untuk mengajak bertamasya menuju era gemilang generasi 90-an. Sinusoid merupakan album kedua dari unit Pop/Indie Rock asal Semarang, setelah pada 2008 lalu terlebih dulu merilis album mini Sail Off The Storm. Secara pribadi, Saya menyebut OK Karaoke sebagai harta karun dari era 1990-an. Ya, alasannya adalah bunyi-bunyi yang mereka hasilkan melalui lagu-lagu seperti pernah Saya dengar, bahkan ada yang akrab di telinga.
Sebelum mendapati album tersebut, Saya coba mengartikan maksud dari “sinusoid” itu sendiri. Sejauh yang Saya tahu, sinusoid merupakan gelombang suara paling jernih yang dapat ditangkap oleh telinga manusia. Meskipun terdapat ambiguasi mengenai arti dan makna, Saya rasa deskripsi pribadi Saya mengenai album tersebut lebih berdasar pada corak musik yang dimainkan oleh OK Karaoke yang memang halus dan jernih. Namun, setelah rilisan tersebut ada di tangan, deskripsi Saya kemudian bergeser. Tampak pada artwork yang diciptakan oleh Garna Raditya (gitaris OK Karaoke), warna merah semacam bercak darah menggiring persepsi Saya menuju sinusoid yang dalam hal ini merupakan bagian dari sistem peredaran darah di dalam jaringan hati.
OK Karaoke menjadikan 9 lagunya sebagai amunisi yang terdapat di dalam album Sinusoid. Dari 9 lagu tersebut, terdapat 3 lagu yang sebelumnya sudah lebih dulu mengudara. Call Me Time dan Casteless Man merupakan single yang mereka rilis setelah album mini Sail Off The Storm yang sekaligus sebagai media pengenalan bagi Febrian Aditya Putra (Dito) sebagai vokalis baru mereka beberapa tahun lalu. Sedangkan Departed merupakan salah satu lagu yang terdapat dalam album kompilasi Atlas City Movement (Al Javier Records / 2012). Adapun 6 lagu lain yaitu Late Comer Boy, Sinusoid, Sangre Azul, Kenanglah Angan, Lekas Sembuh, dan Fetus.
Dari 9 lagu, ada beberapa lagu yang menjadi rujukan bagi Saya untuk menyebut album ini sebagai DeLorean menuju era 1990-an, terlebih adalah Late Comer Boy dan Kenanglah Angan. Ketika mendengarkan 2 lagu tersebut, rasa-rasanya seperti kembali pada masa kejayaan Pure Saturday. Bukan bermaksud untuk menyamakan, namun akar rumput yang dibawa Pure Saturday seolah melekat pada OK Karaoke. Kemudian, di penghujung album ada Fetus. Ah! Lagu ini seolah mempermainkan tempo berjalannya waktu. Track terakhir tersebut begitu dekat dengan langgam Post-Rock yang kental permainan efek modulasi yang menghanyutkan.
Semoga kita bertemu pada masa lalu, pada era 1990-an yang riang dan juga sendu. [GALJIPVT]

Friday, April 25, 2014

The Taqwacores, Sekilas Gambaran Punk Muslim di Khalifornia



Beberapa hari lalu, seorang teman memberi saran kepada Saya untuk segera menonton film yang kebetulan baru saja ia tonton. Semacam rantai euforia yang berputar, ia rekomendasikan film tersebut kepada yang lainnya juga. Film itu berjudul The Taqwacores –film rilisan tahun 2010 karya Eyad Zahra yang diadaptasi dari sebuah novel berjudul sama, karya Michael Muhammad Knight. Film tersebut tidak mengambil banyak tempat sebagai latar dalam adegan-adegannya. Kebanyakan adegan diambil di dalam sebuah rumah di Buffalo, California (kemudian mereka sebut “Khalifornia”) dengan beberapa kamar lusuh yang dihuni pemuda-pemuda Muslim yang juga menganut ideologi Punk –entah patut disebut sebagai ideologi atau bukan, pada kenyataannya Punk memanglah bukan sekadar gaya hidup, namun juga menjadi pola pikir dan landasan hidup bagi sebagian orang. Meskipun begitu, mereka tetap menerapkan ajaran-ajaran Islam ke dalam kehidupannya, meskipun kadang agak melenceng seperti halnya pemuda Muslim di sekitar kita. Rumah itu pula yang menyatukan Punk Muslim di daerah tersebut untuk dapat berkumpul pada siang hari untuk beribadah, dan berpesta pada malam harinya.
Sebut saja Yusef sebagai tokoh utama dalam The Taqwacores. Yusef datang dari Pakistan untuk melanjutkan kuliah di Amerika Serikat. Dia adalah sosok yang lurus, baik hati, dan cenderung ‘bersih’. Jadi, dapat dikatakan bahwa Yusef adalah satu-satunya penghuni rumah yang bukan berasal dari kalangan Punk itu sendiri. Dia pun heran ketika melihat kondisi rumah yang berantakan tersebut, telebih ketika mengetahui ada bendera Arab Saudi dengan coretan lambang anarki di tengahnya. Kemudian ada Umar, sosok bertubuh kekar yang juga penganut paham straight edge, lengkap dengan lambang “X” di sisi permukaan luar tangannya. Umar adalah Muslim yang paling konservatif dan berusaha menerapkan segala hal yang tertulis di dalam Al Qur’an ke dalam kehidupannya. Umar juga merupakan penghuni rumah yang kerap bertengkar dengan penghuni lainnya karena menilai mereka tak layak disebut sebagai seorang Muslim. Selain Yusef dan Umar, ada pula perempuan bercadar yang bernama Rabeya. Rabeya adalah sosok Punk perempuan bercadar yang gemar membaca buku. Uniknya, dia mencoret beberapa bagian di dalam Al Qur’an karena menurutnya bagian-bagian tersebut tak cocok jika diterapkan ke dalam kesehariannya.
Pada awal-awal film, kita juga akan dibuat geli oleh sosok Jehangir dan Fasiq. Keduanya adalah penghuni rumah yang secara tampilan memang menggambarkan gaya anak-anak Punk. Fasiq gemar menghisap ganja. Ia memiliki alasan dalam melakukan kegemarannya itu. Menurutnya, segala yang diciptakan oleh Allah adalah karunia bagi manusia, begitu pula ganja. Itu pula yang dijadikan Fasiq sebagai materi dalam khotbah Jumat di rumah tersebut. Selain dengan Umar, Yusef juga dekat dengan Jehangir. Jehangir adalah sosok kurus berambut mohawk yang dicat merah, yang sempat mengagetkan Yusef pada suatu Subuh. Pada saat itu Jehangir menciptakan nada adzan dengan gitarnya, hal itu membuat Yusef heran. Jehangir menilai bahwa Islam bukanlah hal yang didasari oleh Al Qur’an dan Al Hadist. Menurutnya, Islam adalah tentang bagaimana kita menjadi diri kita sendiri di mata Allah. Dia dan Fasiq sering mengajak Yusef untuk merekam aksi mereka saat bermain skateboard. Selain mereka, ada juga Lynn. Lynn buakanlah penghuni rumah, namun sering berkunjung. Ia adalah seorang yang memeluk Islam dan Katolik sekaligus. Lynn jugalah yang membuat Yusef ingin merasakan kenikmatan hubungan badan, meskipun awalnya Yusef menolak. Ada juga Fatima, yang meneliti kehidupan Muslim transgender di Amerika dan mengajak temannya yang bernama Muzammil. Muzammil adalah seorang gay. Hal itu semakin membuka mata Yusef, bahwa permasalahan gender sebenarnya patut mendapat tempat di suatu lingkup sosial.
Pada suatu ketika, Jehangir berniat mengundang teman-teman Punk-nya dalam sebuah gig yang akan diselenggarakan di rumah itu. Ia menyebutnya sebagai Taqwacores, yaitu komunal Punk Muslim di Amerika Serikat. Ada 1 band yang sempat tidak disetujui teman-temannya, yaitu Bilal’s Boulder. Alasannya, Bilal’s Boulder tidak menerima kehadiran perempuan dalam setiap aksi panggung mereka. Itulah yang menjadi faktor Jehangir untuk tetap mengundang mereka. Jehangir berpendapat bahwa jika dia tidak bisa menerima suatu kelompok karena memiliki perilaku dan interpretasi yang buruk, maka dia juga tidak berbeda jauh dengan mereka. Saat berlangsungnya gig, ketakutan itu muncul saat Bilal’s Boulder naik ke panggung. Terjadi kericuhan dalam adegan tersebut, selayak pesta-pesta Punk/Hardcore pada umumnya. Jehangir terkapar dilantai karena kebrutalan salah satu personil Bilal’s Boulder, dan Yusef juga ikut kena imbasnya.
Adegan gig tersebut adalah jembatan menuju akhir film The Taqwacores. Sayang sekali, akhir film terkesan menggantung dan tidak jelas. Terlihat bahwa Yusef seolah merasa kecewa dengan ‘perjalanan spiritual” yang diliputi ulah teman-temannya. Secara garis besar, The Taqwacores menceritakan tentang gambaran kehidupan skena Punk di Amerika Serikat dalam gejolak antara Islam moderat dan Islam konservatif. [GALJIPVT]