Friday, May 31, 2013

PART II: SATIR GURITA DASAR LAUT

Banyak yang bilang kalau era-era sekarang ini bukanlah era yang cocok untuk melemparkan isu-isu pula kritik sosial ke permukaan. Hal itu terlalu purba jika diimplementasikan dalam keseharian masyarakat yang saya rasa sudah mulai terbuai oleh zona nyaman mereka sendiri yang notabene merupakan zona pada umumnya –semua berada di lingkup sosial yang sama dan itu-itu saja. Kemudian, mereka mencibir orang-orang yang berani menyorot hal-hal ganjil ke publik. Mereka yang mayoritas memang tetap superior, namun ‘kosong’ dan monoton. Bicara mengenai musik, kita akan dihadapkan pada perspektif yang menyoal mainstream dan sidestream. Saya tak bicara soal pasar, karena keduanya membutuhkan pasar dengan pandangan mereka sendiri. Yang saya bahas adalah bahwa antara mainstream dan sidestream terdapat jurang yang tidak akan bisa dipersatukan. Perbedaan keduanya terletak pada tema dan cara kemas. Kita tak bisa serta merta menghakimi sebuah band Pop sebagai band mainstream, pula band Punk sebagai sidestream. Sekarang, keduanya bias. You know what I mean.

Berkenaan dengan topik-topik sosial, mari sejenak kita melirik Octopuz, pioneer langgam Southern Rock asal Semarang. Baru-baru ini, gerombolan si berat yang beranggotakan Haryo Prahasto, Brury Prasetyo, Gatot Jatmiko, Novelino Adam, dan Syamsa Zakka telah merilis album mini keduanya yang diberi tajuk ‘PART II’ (Girez Records) pada 15 Mei 2013 lalu. Album mini yang berisi 6 track tersebut merupakan tindak lanjut atas ‘I’ yang dirilis pada 2009. Konten di dalam ‘PART II’ masih sama dengan apa-apa yang disuarakan dalam album mini mereka sebelumnya karena memang benar jika dikatakan bahwa isu-isu mengenai kehidupan sosial tak akan pernah ada ujungnya. Untuk itu, Octopuz coba menyorot kehidupan sosial di sekitar mereka dengan lagu-lagu yang terdapat pada ‘PART II’.

Secara sederhana, saya coba untuk mengartikan artwork yang terdapat pada sampul album mereka. Terdapat seorang pria tua dengan dikelilingi 8 tentakel gurita yang masing-masing memiliki perannya masing-masing. Saya pikir, pria tua tersebut merupakan interpretasi yang mewakili Dewa Zeus dari mitologi Yunani. Namun, macam benda yang melekat pada tentakel-tentakel tersebut mengingatkan saya terhadap ilustrasi dewa-dewa Hindu. Yang saya cermati adalah gambar mahkota, ornamen matahari dan bulan, dan gradasi warna. Menurut saya, artwork tersebut secara tegas merupakan satir terhadap dualisme sifat manusia yang mencakup kebaikan dan keburukan untuk mencapai suatu tujuan. Mengenai konten di dalamnya, ‘PART II’ berisi 6 buah lagu yaitu ‘Ranah Tandus’, ‘Purifikasi Dosa Semesta’, ‘Distorsi’, ‘Kontradiksi Eksistensi’, ‘Diorama’, dan ‘Manusia dan Serigala’. Dari apa yang di suguhkan Octopuz di album mini tersebut, jelas tampak perbedaan dengan album mini sebelumnya. Untuk ‘PART II’, Octopuz lebih berani mengeksplorasi musik mereka dan bermain-main dengan efek modulasi. Kita juga akan menemukan sesuatu yang berbeda pada ‘Kontradiksi Eksistensi’ –terdapat sesi puisi oleh Cepot (Tanpa Nada) yang dilatari  bunyi-bunyian khas seperti milik Mastodon. Kemudian, pada ‘Manusia dan Serigala’, Hamzah dari trio rap Retorika ikut andil di beberapa bagian. Secara garis besar, lagu-lagu Octopuz dalam ‘PART II’ merupakan buah dari suatu kejanggalan yang mereka alami dalam kehidupan sosial.

Menurut saya, Octopuz juga patut diperhitungkan dalam skena musik nasional karena mereka berani mengaplikasikan sesuatu yang sebelumnya belum ada di ranahnya. Do you feel the same?

Friday, March 15, 2013

Holy Baby Horny Dan Manuver Menuju Album Mini

Love - Money - Leaf - Alcohol

Holy Baby Horny, band asal Kota Semarang yang akhir-akhir ini berhasil menginvasi panggung dan moshpit  di gigs lokal maupun luar kota dengan gimmick yang serampangan dan ugal-ugalan -bahkan sesekali menjurus ke aksi vandal, jujur saja selalu membuat saya penasaran dan bahkan ‘iri’ saat mereka mulai menyebarkan isu-isu di media sosial Twitter. Baru-baru ini, band yang beralih ke langgam Punk/Hardcore tersebut, secara mandiri telah memproduksi demo CD yang berisi 2 video –dokumentasi tur di kota Bandung pada 2012 dan live video dalam gig lokal “#MelawanBatas” (2013). Di dalamnya, terdapat pula sebuah lagu berjudul “SR North In West” yang rencananya akan diikutsertakan dalam album mini mereka yang akan dirilis oleh Revenge Records (YK). Jarang ada band di Semarang yang begitu produktif dan kreatif seperti mereka. Patut dicontoh!
Salut dan tinggi hormat.


Silakan bertamu ke laman mereka di:
http://soundcloud.com/holybabyhornyac
http://twitter.com/hbhac

Friday, January 25, 2013

Diskriminasi dan Rasialisme, Manifestasi Xenophobia

Dewasa ini, Indonesia seperti belum memiliki tempat pemberhentian bagi pembedaan-pembedaan. Isu-isu diskriminatif masih gencar dilancarkan oleh orang-orang yang memiliki kepentingan tertentu. Isu tersebut ditujukan atas nama candaan ringan atau kepentingan memecah belah yang begitu laten. Kedua kemungkinan tersebut sama-sama memiliki konsekuensi terhadap nilai-nilai berkebangsaan.

Diskriminasi dan rasialisme seolah menjadi warisan paten dari orang-orang terdahulu kepada para penerusnya. Sejarah menyimpulkan, isu-isu tersebut mulai menjamur di Indonesia melalui sistem devide et impera yang digagas oleh Kolonial Belanda. Dalam sistem ini, ada hak istimewa yang diberikan kepada klan tertentu, yaitu etnis Cina. Padahal kalau dinalar, sistem itu dilakukan hanya demi keuntungan Belanda semata. Terlepas dari itu, isu diskriminasi dan rasialisme tampak jelas terjadi pada era transisi Orde Lama ke Orde Baru dan terus berkembang pesat di era Orde Baru.

Pada masa transisi Orde, timbul suatu konflik yang memojokkan Partai Komunis Indonesia yang pada saat itu dianggap akan melakukan makar terhadap Soekarno dan Republik. Pada masa ini, terdapat suatu kekuatan yang tiba-tiba muncul dan melancarkan isu rasial terhadap etnis Cina dengan menuduh etnis tersebut sebagai antek komunis. Jelas saja, hal ini dikarenakan komunis juga berkembang pesat di RRC. Kemudian, saat Orde Baru, penguasa kala itu seolah “membalas dendam” dengan cara mereproduksi sistem politik yang digunakan pada masa kolonial untuk lebih menekan etnis tertentu. Orde Baru juga menghasilkan sistem politik yang rasial dengan adanya pembagian wilayah-wilayah berdasarkan pembedaan etnis, ras, dan golongan. Hal itu kemudian disinyalir sebagai penyebab timbulnya rasa saling curiga dan memusuhi yang kemudian termanifestasi pada sebuah konflik yang sangat pilu.

Selepas runtuhnya rejim Orde Baru hingga sekarang, isu-isu tersebut tidak serta merta lenyap. Masih ada sisa-sisa kebencian dan dendam lama terhadap orang-orang asing yang tumbuh di kehidupan masyarakat yang berpotensi menjadi bom waktu. Seharusnya kita malu dan belajar.

Sunday, July 22, 2012

Psyched up Janis - The Stars Are Out

Merasa beruntung saat menemukan folder "Psyched up Janis" yang terselip di folder "Sonic Youth". Awalnya asing, karena baru mengetahui band ini. Aku pikir, yang ini pasti salah satu band semacam Dead Meadow yang kental dengan psychedelic-nya (enak kalo didengerin sambil giting haha!), ternyata bukan! Band asal Denmark yang dibentuk tahun 1989 (bubar tahun 1999) oleh Sune Rose Wagner, Martin Bjerregaard, dan Jakob Jørgensen ini menurutku lebih ke rock/alternatif yang renyah. Coba simak "I Died In My Teens", "Inch", "In The Sun", dan lainnya, lalu ekspresikan sendiri.

Monday, May 7, 2012

Elora

Segala yang pernah terimplisit
menemu ruang kosong yang sama
Rendah rasanya
berputar angin dalam rongga
Segala waktu yang telah usang
mencipta sebuah diorama
Seperti kegelisahan
menemu bangku kosong di taman

Tulisan ini kabur, diciptakan oleh Diorama Ruang Masa untuk melengkapi instrumental lagu yang bising terimplisit.
Elora