Cogito ergo sum. Ungkapan Rene Descartes yang didasari oleh
keraguan terhadap hal-hal di sekelilingnya tersebut kemudian menjadi
semacam pegangan orang-orang untuk membuktikan eksistensinya. Menurut
beberapa referensi yang saya baca, Descartes ragu-ragu akan kebenaran
absolut. Dia berpendapat bahwa pikiran manusia akan menuntunnya ke
dalam berbagai kesalahan. Hingga pada suatu saat, dia sadar kalau
kekuatan yang ada di dalam pikirannya membuktikan bahwa hal-hal di
sekelilingnya ada, termasuk keberadaan dirinya sendiri. Agnostik, ya?
Terus berpikir, hal yang ada di dalam keraguan akan menemui muaranya
-keberadaan mutlak berupa kebenaran. Pun, setelah menemu kebenaran juga
hendaknya terus berpikir.
Dari hal yang diungkapkan oleh Descartes, dapat pula 'diplesetkan' menjadi
Scribo ergo sum.
Aku menulis, maka aku ada. Kalau Soe Hok Gie tidak gemar menuliskan
hal-hal yang dialaminya, barangkali namanya tak banyak dikenal
orang-orang 'baru', pun begitu juga masih banyak yang belum tahu. Lalu,
sejarah mengenai G30S bahkan belum menemui titik terang hingga
sekarang. Pada waktu itu, jurnalis disetir oleh penguasa. Kritik dalam
bentuk apapun terhadap pemerintahan orde baru diharamkan, bahkan yang
mengkritik dihilangkan. Imbasnya sekarang, sejarah menjadi kabur.
Karena dari tulisan, kebenaran dan/atau keberadaan sejarah dapat pula
diungkap.
Zine, Alterego...
Tak
banyak yang tahu mengenai zine (dibaca 'zin'), terlebih
angkatan-angkatan baru. Seperti halnya dengan Punk, pun pendefinisian
zine kadang seolah kabur. Tiap orang memiliki perspektif pribadi dalam
menilai zine atau bukan zine. "Nah yang menarik dari zine memang itu.
Ah, rasanya ada pakem, tapi aku pikir semua bisa bebas-bebas saja.
Tapi, kebebasan itu pun rasanya memiliki satu garis tebal tertentu dalam
hal pengemasan. Jadi, pakem menciptakan zine itu bebas-bebas asik.",
ungkap
Annisa Rizkiana Rahmasari. Pada 17 - 28 Juli lalu, bertempat di
Hysteria (Stonen 29, Sampangan, Semarang) telah diadakan sebuah
workshop dan pameran zine yang digagas oleh Annisa Rizkiana Rahmasari dan beberapa temannya. Dalam
workshop itu pula, beberapa
zinemaker
yang sempat menghiatuskan diri kembali menciptakan zine dengan topik
bahasan yang belum mereka rencanakan sebelumnya. Mereka menciptakan
zine secara sederhana dengan alat dan bahan semacam kertas, alat tulis,
gunting, dan sebagainya. "Seperti berkenalan, ada yang masih
malu-malu. Namun, ada juga perasaan ingin mengenal lebih.
So far, banyak teman-teman yang memberi
support dan menginspirasi, jadi saling mendukung satu sama lain.", jelas Nisa mengenai
workshop zine.
Kalau bisa dibilang, zine adalah sebuah alterego. Seperti halnya
seseorang yang menuangkan hal-hal yang ada di pikirannya ke dalam sebuah
lagu ataupun gambar. Apa-apa yang terdapat dalam zine juga merupakan
ungkapan yang dituangkan dalam media lain. Perkembangan jaman juga
berpengaruh terhadap bentuk dan macam zine. Era informatika melalui
media digital memberi inisiatif kepada
zinemaker untuk
menciptakan webzine dan/atau e-zine. Namun, banyak pula yang masih
memegang akar rumput bahwa mesin fotokopi tak akan pernah mati. Menurut
perempuan yang akrab disapa Nisa tersebut, zine bisa bilang sebagai
rekam jejak dan proses berkenalan dengan hal-hal baru. Sehingga dengan
pengelolaan rasa ini, kita akan lebih tahu diri kita, dan yang lebih
luas lagi adalah kebudayaan kota. Ya, memang ada benarnya. Zine seperti
buku sejarah. Dari zine pula, kita dapat tahu sejarah kita. Sejarah
dalam arti luas.
Di Semarang sendiri, pergerakan zine memang tidak
bisa dibilang masif. Beberapa muncul pada 2001, mereka tak tampak
setelah beberapa edisi. Namun, orang-orang tersebut melebur dan
menciptakan zine baru. Setelah 2006, zine di Semarang seolah mati. Tak
banyak yang produktif. "Aku ingin Semarang bisa punya
zine library dan
zine festival.",
harap Nisa. Pasti akan menarik sekali ketika banyak dari kita,
teman-teman yang kamu kenal maupun yang belum kamu jumpai sebelumnya
sibuk menumpuk rekam sejarah masing-masing secara personal maupun
komunitas. "Dengan begitu,
we can go backward and forward through the times. Dan regenerasi ini pasti sangat menyenangkan, ada semangat yang kita pelihara secara bersama-sama.", tutup Nisa.